Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Aku Adalah Lalat Pengganggu Athena

Socrates
Semalaman aku telah kehilangan jejak teman-temanku… Seharusnya aku dan yang lainnya dijadwalkan turun dari puncak Gunung Arjuna ini esok pagi, tapi entah kenapa teman-temanku justru menghilang.. Sialan, sama saja ini dengan pendakian tunggal. Mereka pikir aku takut? No Way!!

Sudah tiga kali ini aku mendaki Gunung Arjuna, karena tempat ini sungguh eksotis bagiku. Tahukah kau kawan.. jika sudah sampai puncak, akan tampak di sebelah barat “Gunung Welirang”, aku menyebutnya gunung “perokok” karena memang puncaknya yg selalu mengeluarkan asap sperti asap rokok. Di sampingnya agak ke arah barat laut nampak “Gunung Penanggungan”, tapi aku lebih suka menyebutnya “kembaran Semeru” karena puncaknya yang runcing sempurna bak Semeru. Di sebelah utara dimanjakan pula oleh jurang terjal berbatu-batu yang unik dan indah. Ah.. tapi sekarang batu-batu itu sudah penuh coretan-coretan mereka yang mengaku para “pecinta alam” atau coretan sang “pengagum cinta”, bukankah lebih baik mereka mencorat-coret tembok “ratapan” saja? Ah.. aku melamun..
    ***
Tubuhku tiba-tiba saja menggigil, tulang-tulang sendiku linu, kepalaku pun terasa berat, pening sangat.. Ku raih botol air minuman yang sedari tergeletak di sampingku,, kosong. Aku sudah tidak kuat.. tenggorokanku kering.. “ah.. kenapa aku ini.. apa aku sudah terkena hypothermia..? Bukankah aku sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini.. ini hanya gunung Arjuna..!!” Aahh.. kepalaku.. sialan..!

Aku sempat melihat kerlap-kerlip cahaya malam, mungkin dari beberapa rumah penduduk desa, atau mungkin juga kunang-kunang, biasanya juga seperti itu. Malam ini begitu sangat dingin, angin begitu kencang di puncak Arjuna, disertai hujan yang sebenarnya mulai agak mereda. Tidak ada suara hewan malam yang biasa menemani waktu itu, sungguh mencekam.. sunyi.. benar-benar sunyi! membosankan.. Aahh.. kepalaku terasa pusing lagi.. aahh.. seperti ada hentakan keras dalam kepalaku.. mataku tiba-tiba terasa berat.. amat berat,, dan akhirnya… terpejam…    srraaak… bruaakk.. … duugh..,,

Aahhg… aaooww.. sakiitt..” Aku terbangun.. sedikit demi sedikit mataku terbuka. Ada yang menetes dari keningku.. darah,,??! Mungkin terbentur batu itu.. perih. Aku mendongak ke atas, “apakah aku terperosok dari atas sana?” gumamku. Aku melihat seberkas cahaya kuning dari ujung timur, sudah pagi pikirku. Dengan setengah sadar aku mencoba bangkit, ku raih kayu atau semacamnya untuk menopang tubuhku agar dapat berdiri, atau setidaknya untuk sekedar duduk,, tiba-tiba..
Hhah..! Aku terkejut…, “dimana aku? Bukankah seharusnya aku masih berada di wilayah Gunung Arjuna? Bukankah seharusnya yang aku lihat di wilayah seperti ini adalah Candi Wesi, atau Sendang Drajad, atau Puncak Sepilar..? Tapi ini.. ini.. ini dimana..?” Aku sangat terkejut..!! Heran!! Benar-benar aneh!

Yang aku lihat di sekitarku waktu itu adalah lembah-lembah berbatu, tebing-tebing yang berdiri tegak dan kokoh, namun indah.. diselimuti kabut pagi.. aku seperti pernah melihat daerah ini tapi entah dimana. Aku mencoba berjalan menyusuri lembah itu, tergopoh-gopoh.. sebentar kemudian aku melewati sebuah bangunan, tinggi dan besar,, dengan tiang-tiang kokoh menjulang, aku sendiri sempat menghitung tiang-tiang itu, berjumlah enam,, bangunan yang luar biasa, eksotis, dengan patung ala dewa Yunani tepat di depannya, arsitektur yang luar biasa. “apa,, Yunani..?” Ya aku ingat tempat ini seperti yang aku lihat dalam program National Geographic di TV, tidak salah lagi ini Athena, Yunani, aku tidak salah lagi… “tapi.. bagaimana bisa?”

Hei anak muda kemarilah,,” aku terkejut mendengar suara itu.., suara yang datang entah darimana,  sekonyong-konyong mengusik lamunanku. Aku tidak dapat melihat dengan jelas, remang-remang, karena memang masih padatnya kabut yang menyelmuti pagi itu. Sejenak kemudian terlihat sosok kakek berbadan besar dan gempal, rambutnya ikal agak lebat, terlebih janggutnya yang menutupi hampir 1/3 bagian wajahnya. Sumpah.. wajahnya buruk sekali, sorotan matanya tajam, bajunya pun agak kumal, dengan sebuah tongkat tua di tangan kanannya. Dia duduk di sebuah batu, agak besar, namun kakinya masih menjulur di tanah. tiba-tiba dia tersenyum, senyum penuh kebijaksanaan;

Mendekatlah wahai anak muda”.. Aku agak ragu antara mendekat atau berlari, bahkan badanku sudah menggigil waktu itu, antara kedinginan dan ketakutan..
Jangan takut.. aku hnya ingin bertanya kepada mu, anggap saja sekedar berdiskusi”. Belum sempat aku menerima tawarannya, sang kakek langsung bertanya; “wahai anak muda, apakah kau tahu apa sebenarnya sifat dari udara? maksudku udara itu panas ataukah dingin?

Lalat Pengganggu Athena
Aah.. itu pertanyaan anak kecil pikirku,, “sifat udara itu pastilah dingin Kek.. bahkan kakek sendiri merasakan betapa udara sekarang dingin sekali” jawabku dengan sedikit cuek..
Hemm..” (sang kakek tersenyum),, “lalu mengapa kusir delman itu sedari tadi meniup-meniup kedua telapak tangannya nak?”. Mataku sedikit terbelalak kaget. Tiba-tiba saja aku melihat sekitar 50 M di sebelah barat kakek tua itu duduk, ada sebuah delman tua, kudanya berwarna putih bersih, delman itu ditunggangi oleh seorang bapak yang memang sibuk meniup-niup kedua telapak tangannya, aku sendiri yakin itu dilakukan untuk mengurangi rasa dingin yang sangat menusuk tulang pagi itu.
Kusir itu meniup-niup telapak tangannya untuk mengurangi rasa dingin kek.. bukankah kakek juga merasakannya?” jawabku singkat.
Lalu nak, jika kamu menganggap bahwa sifat udara itu dingin, bukankah yang dilakukan oleh Kusir delman tersebut akan sia-sia karena akan menambah rasa dingin di tubuhnya?”tegas sang kakek. “Hah.., benar..! memang benar.!!. Siapa sebenarnya sang kakek ini” batinku. Aku pun melanjutkan diskusiku, “kalau begitu udara itu panas, bukan begitu kek?

Ha..ha..ha..” dia tertawa sedikit keras hingga sebagian gigi gerahamnya terlihat olehku.
Kau yakin dengan jawaban kedua mu itu anak muda?
Ya.. aku yakin, bahkan lebih yakin dari jawabanku yang pertama”,tegasku singkat.
 “Lalu bagaimana dengan prilaku kedua pemuda di kedai kopi itu nak?
 Aku menoleh ke sebelah utara mengikuti arah yang ditunjuk tongkatnya, seketika itu aku melihat dua pemuda sedang meminum kopi yang kelihatannya masih panas, aku pun masih mmpu melihat asap mengepul dari kedua cangkir kopi mereka..

Jika udara menurutmu panas wahai anak muda..,, mengapa kedua pemuda tersebut justru meniup-niup kopinya yang panas agar air kopinya menjadi dingin? Jika udara yang ditiup oleh kedua pemuda itu bersifat panas, bukankah air kopi akan menjadi tambah panas dan susah untuk diminum?” tegas sang kakek. Jujur, waktu itu aku semakin mengagumi pertanyaan dan pernyataan sang kakek,, sederhana namun penuh logika, logis namun penuh dengan kebijaksanaan, “siapa sebenarnya laki-laki tua itu?” gumamku.

Kek.. sekarang aku tahu, bahwa sifat udara itu ada saatnya panas, namun ada juga saatnya dingin, atau bisa jadi tidak panas dan dingin, benar begitu kan maksud kakek?

Tiba-tiba sang kakek berdiri tepat di hadapanku, aku jelas melihat tubuhnya yang tinggi besar menyerupai orang eropa. Dia tersenyum ringan, kemudian menjawab dengan bijak;“wahai anak muda,, tidak penting apakah udara itu panas ataukah dingin, atau tidak kedua-duanya, yang terpenting adalah bahwa pengetahuan itu sangatlah luas, melebihi luasnya dunia yang kau pijak kini, jangan karena matamu yang hanya sepasang itu menjadikanmu berpandangan sempit apa lagi picik,, ingatlah.. bahkan imajinasimu yang sederhanapun bisa menembus pori-pori dunia

Aku tersentak mendengar kata-kata bijak sang kakek dan semakin penasaran dengan sosok yang berada di hadapanku “kek..,, siapakah sebenarnya kakek ini?
Aku... ha..ha..ha.. aku hanyalah “Gadfly of Athena” aku hanyalah “Gadfly of Athena”..
 tiba-tiba sosok tua itu hilang.. seperti hembusan angin…, dan aku pun pingsan…
    ***
“Gadfly of Athena” (lalat pengganggu Athena) adalah julukan bagi “SOCRATES”
Tribute to Gus Coy

Post a Comment for "Aku Adalah Lalat Pengganggu Athena"