Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Risalah Umar Ibn Khattab (Peradilan versi Umar Ibn Khattab)

Risalah Umar, yaitu risalah yang dikirimkannya kepada Abu Musa Al-Asy’ari r.a., di dalamnya tercantum pedoman  bagaimana seharusnya peradilan dilaksanakan dan bagaimana sikap seorang hakim dalam melaksanakan tugasnya. - See more at: http://www.fathurrizqi.com/2013/09/hukum-pembuktian-perdata.html#sthash.JuK23tfm.dpuf
Risalah Umar
Risalah Umar Ibn Khattab adalah sebuah surat yang dikirim oleh Khalifah Umar Ibn Khattab kepada salah seorang Gubernurnya yang bernama Abu Musa al-Asy'ari. Risalah tersebut memuat prinsip-prinsip peradilan Islam, yang meliputi bagaimana seharusnya suatu peradilan dilaksanakan, dan bagaimana seharusnya sorang Hakim bersikap dalam menangani suatu perkara yang dihadapkan kepadanya. Risalah Umar ini dalam perkembangannya menjadi sangat populer dan menjadi salah satu rujukan bagi akademisi dan praktisi hukum. Berikut in adalah salinan teks asli Risalah Umar Ibn Khattab berikut terjemahannya.
risalah yang dikirimkannya kepada Abu Musa Al-Asy’ari r.a., di dalamnya tercantum pedoman  bagaimana seharusnya peradilan dilaksanakan dan bagaimana sikap seorang hakim dalam melaksanakan tugasnya - See more at: http://www.fathurrizqi.com/2013/09/hukum-pembuktian-perdata.html#sthash.JuK23tfm.dpuf

عن أبى العوام البصرى قال : كتب عمر إلى أبى موسى الأشعرى أما بعد فإن القضاء فريضة محكمة وسنة متبعة فافهم إذا أدلى إليك فإنه لا ينفع تكلم بحق لا نفاذ له وآس بين الناس فى وجهك ومجلسك وقضائك حتى لا يطمع شريف فى حيفك ولا ييأس ضعيف من عدلك البينة على من ادعى واليمين على من أنكر ،
والصلح جائز بين المسلمين إلاصلحا أحل حراما أو حرم حلالا ، ومن ادعى حقا غائبا أو بينة فاضرب له أمدا ينتهى إليه ، فإن جاء ببينة أعطيته بحقه ، فإن أعجزه ذلك استحللت عليه القضية فإن ذلك ابلغ فى العذر وأجلى للعمى ولا يمنعك من قضاء قضيته اليوم فراجعت فيه لرأيك وهديت فيه لرشدك أن تراجع الحق لأن الحق قديم لا يبطل الحق شىء ومراجعة الحق خير من التمادى فى الباطل ، والمسلمون عدول بعضهم على بعض فى الشهادة إلا مجلودا فى حد أو مجربا عليه شهادة الزور أو ظنينا فى ولاء أو قرابة فإن الله تولى من العباد السرائر وستر عليهم الحدود إلا بالبينات والأيمان ، ثم الفهم الفهم فيما أدلى إليك مما ليس فى قرآن ولا سنة ، ثم قايس الأمور عند ذلك واعرف الأمثال والأشباه ، ثم اعمد إلى أحبها إلى الله فيما ترى وأشبهها بالحق ، وإياك والغضب والقلق والضجر والتأذى بالناس عند الخصومة والتنكر فإن القضاء فى مواطن الحق يوجب الله له الأجر ويحسن له الذخر فمن خلصت نيته فى الحق ولو كان على نفسه كفاه الله ما بينه وبين الناس ، ومن تزين لهم بما ليس فى قلبه شانه الله فإن الله لا يقبل من العباد إلا ما كان له خالصا وما ظنك بثواب الله فى عاجل رزقه وخزائن رحمته والسلام

Artinya:
Amma ba’du. Bahwa sesungguhnya peradilan itu adalah sesuatu kewajiban yang ditetapkan oleh Allah SWT dan suatu sunnah Rasul yang wajib diikuti. Maka pahamilah benar-benar jika ada sesuatu perkara yang dihadapkan kepadamu dan laksanakanlah jika jelas kebenarannya, karena sesungguhnya tidaklah berguna pembicaraan tentang kebenaran yang tidak ada pengaruhnya (tidak dapat dijalankan). Dan persamakanlah kedudukan manusia itu dalam pandanganmu, majelismu dan keputusanmu sehingga orang bangsawan tidak dapat menarik kamu kepada kecurangan dan orang yang lemah pun tidak berputus asa dari keadilan.

Keterangan berupa bukti atau saksi hendaklah dikemukakan oleh orang yang mendakwa dan sumpah hendaklah dilakukan oleh orang yang mungkir (terdakwa).

Perdamaian diizinkan hanya antara orang-orang yang bersengketa dari kalangan muslimin, kecuali perdamaian yang menghalalkan barang yang haram atau mengharamkan barang yang halal.

Barang siapa mengaku sesuatu hak yang ghaib atau sesuatu yang jelas yang mana bukti-bukti yang akan dikemukakannya itu masih belum terkumpul di tangannya, maka berikanlah kepada orang itu waktu yang ditentukan. Maka jika ia dapat mengemukakan bukti-bukti tersebut, berikanlah haknya, dan jika ia tidak sanggup, maka selesailah persoalannya. Sebab cara memberikan waktu yang ditentukan itu adalah sebaik-baiknya penangguhan dan lebih menjelaskan keadaan yang samar dan tidaklah akan menghalangimu suatu keputusan yang telah engkau ambil, di kemudian hari engkau meninjaunya kembali, lalu engkau mendapat petunjuk (hidayah), tidak lah hal itu menghalangimu kembali kepada kebenaran, karena kebenaran adalah qodim yang tidak dapat dibatalkan oleh apapun, dan kembali kepada kebenaran itu lebih baik daripada terus menerus di dalam kesesatan.

Kaum muslimin itu adalah orang-orang yang adil terhadap sesama mereka, kecuali orang yang pernah bersumpah palsu atau orang yang pernah dikenakan hukuman jilid (dera) atau orang yang tertuduh dalam kesaksiannya berhubung karena kerabat, hanyalah Allah SWT yang menguasai rahasia hati hamba-hamba-Nya dan melindungi mereka dari hukuman-Nya kecuali ternyata dengan bukti-bukti yang sah atau sumpah.

Kemudian pahamilah, pahamilah benar-benar persoalan yang dipaparkan kepadamu tentang suatu perkara yang tidak terdapat di dalam Al Qur’an atau di dalam Sunnah Rasul. Kemudian pada waktu itu pergunakanlah qiyas (analogi) terhadap perkara-perkara itu dan carilah contoh-contohnya, kemudian berpeganglah menurut pandanganmu kepada hal yang terbaik pada sisi Allah SWT dan yang mendekati kebenaran. Jauhilah sifat membenci, mengacau, membosankan, menyakiti hati manusia dan jauhilah berbuat curang pada waktu terjadi persengketaan atau permusuhan, karena sesungguhnya peradilan itu berada di tempat yang hak, dimana Allah SWT telah mewajibkan pahala di dalamnya dan juga merupakan peringatan yang baik. Siapa yang ikhlas niatnya untuk menegakkan yang hak walaupun atas dirinya sendiri, Allah SWT akan mencakupkan antara dirinya dan antara manusia, dan barang siapa yang berhias diri dengan apa yang tidak ada pada dirinya, maka Allah SWT akan memberikan aib kepadanya. Sesungguhnya Allah SWT tidak akan menerima dari hamba-hamba-Nya kecuali yang ikhlas, Wassalam.

*Bagi yang ingin Buku Biografi Umar Ibn Khattab, silahkan Download di sini (Biografi Umar Ibn Khattab)
________________________
Maktabah Syamilah, Kitab Jaami’ al-Ahadits, Bab Musnad Umar bin al-Khathab, Juz 28 h. 181

Post a Comment for "Risalah Umar Ibn Khattab (Peradilan versi Umar Ibn Khattab)"