Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bertahan atau Re-Start

Surrender
Saat langkah terhenti, tersandung kerikil tajam, tak jarang kita menyerah pada keadaan. Tidakkah kita sadari, di sekitar kita ada orang-orang yang berharap diberi kesempatan yang sama, berjalan di jalan yang saat ini kita tempuh.
Hidup adalah jalan, lebih tepatnya sebuah perjalanan. Sebagian orang berpendapat hidup adalah sebuah perjalanan singkat yang harus dinikmati sepuas-puasnya, sebagian lainnya berasumsi hidup adalah sebuah jalan panjang yang harus dilalui dengan seabrek persoalan.

Naif memang, terkadang kita lebih terfokus pada hidup (jalan) tersebut, hingga lupa harus memulai berjalan darimana. Tak jarang di saat kita sudah berjalan demikian jauh, baru tersadar jika jalan tersebut tak semestinya kita pilih. Ada yang mencoba kembali ke awal dan memulainya dengan menapakkan kaki di jalan yang berbeda, namun tak sedikit yang menghabiskan sisa umurnya dengan hal-hal rumit yang kita sebut dengan keterpaksaan.

Kawan, saya pernah berpikir bahwa jalan yang saat ini saya lalui bukanlah jalan yang seharusnya saya lalui. Saya pernah menganggap hidup yang saya nikmati saat ini bukanlah hidup yang seharusnya menjadi milik saya. Saya sangat yakin saya tidak sendiri, ada banyak orang di luar sana yang membiarkan asumsi-asumsi seperti ini berputar-putar di kepalanya. Hmm,, suatu hal yang patut dikaji ulang. 

Kawan, saya ingin sedikit berbagi cerita tentang 9 "bocah beruntung" yang diterima bekerja di suatu perusahaan bonafit. Orang-orang ini berasal dari latar belakang yang berbeda, bisa dibilang sebelumnya mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Hari pertama bekerja adalah hari dimana orang-orang ini memulai cerita sebagai sebuah kelompok kecil yang terdiri dari 9 ide, ambisi yang tak sama, berbeda, tetapi dapat menghasilkan cita rasa tinggi jika diracik dengan benar.

Minggu-minggu awal adalah minggu yang berat, semuanya masih mengedepankan ego masing-masing, pertengkaran kecil adalah menu harian yang dikonsumsi bersama.

Seiring berjalannya waktu, bocah-bocah tersebut mulai mencoba menata hati dan memperbaiki langkah, persoalan kecil yang dulu sering diperdebatkan-tak jarang berujung pertikaian-, sudah bisa diredam dengan baik. Bulan-bulan berikutnya adalah bulan-bulan yang indah untuk dikenang, tanpa gesekan yang berarti.

Sekarang genap 1 tahun mereka mengabdikan diri dengan totalitas tinggi di sebuah instansi yang sangat mereka hormati. Hmm,, jika ada sebuah ungkapan yang mengatakan "udara tenang pertanda badai akan datang" itu memang benar adanya. Mengawali tahun kedua di sebuah perusahaan besar, apalagi dengan posisi yang kian melejit bukanlah suatu perkara gampang. Banyak rintangan menghadang, sekelumit persoalan mulai datang bak hantu gentayangan mengintai setiap langkah "bocah-bocah beruntung" itu. 

Laporan dan pengaduan -dari orang-orang yang tidak senang dengan kecemerlangan karir si "bocah"- mulai menghiasi meja atasan. Kini hidup tidak lagi nyaman, banyak yang siap menjerumuskan, bahkan dengan sedikit saja kesalahan yang terlakukan.

Suatu ketika, 9 orang ini berkumpul membicarakan perihal kehidupan yang saat ini mereka rasakan. Beberapa mulai mengeluh dan menyalahkan keadaan. Beberapa mulai mempertanyakan eksistensi mereka di perusahaan yang mereka hormati itu. Beberapa mulai berpikir untuk keluar dari kehidupan yang pelik itu, dan berhasrat untuk memulai sebuah kehidupan baru yang lebih merdeka dan bermakna. Ada yang memilih bertahan dalam diam. 

Siapa yang akan menyangka, pertemuan itu adalah pertemuan terakhir mereka. Mereka berpisah untuk beberapa waktu yang lama, hingga  takdir mempertemukan mereka kembali.

Singkat cerita, 9 orang ini berkumpul dan saling berbagi cerita tentang pengalaman hidup yang dilaluinya setelah "pertemuan terakhir" mereka beberapa tahun yang lalu.

Beberapa dari mereka berpendapat bahwa keputusan untuk keluar dari kehidupan yang pelik di sebuah instantsi tempat mereka dulu bekerja adalah sebuah pilihan yang tepat. Mereka menceritakan betapa bahagianya hidup mereka saat ini, menjalani kehidupan yang seharusnya dimilikinya sejak awal. Sekalipun ada yang menyela dan menganggap keluar dari sebuah perusahaan bonafit adalah hal terbodoh yang pernah mereka lakukan.

Beberapa mengatakan bahwa keputusan untuk bertahan dalam "badai tornado" di sebuah perusahaan tempat mereka dulu bekerja adalah sebuah keputusan yang tepat. Mereka mengisahkan kisah perjuangan mereka bertahan melewati kelamnya hidup, hingga bertemu dengan matahari kesuksesan. Hey, bukankah habis gelap terbitlah terang?, selepas hujan kau akan melihat pelangi?. Sekalipun ada yang menyela dan menganggap bertahan dalam kehidupan pelik di sebuah lingkungan kerja yang dipenuhi serigala-serigala berbulu domba adalah hal terbodoh yang pernah mereka lakukan.

Ada yang tak bergumam, menatap meja dengan tatapan kosong, sembari memainkan jemarinya pada gelas minuman yang sedari tadi tak kunjung dicicipinya. Hal ini tentu saja suatu hal tak wajar menurut rekan-rekannya. Sekian detik berlalu tanpa ada satu orang pun bersuara....., hingga suara yang diharapkan itu pun muncul, "Kadang diam dan merenung beberapa saat diperlukan untuk merangkai jalan yang akan dilalui, mempersiapkan cara yang tepat untuk melaluinya dengan baik." Ada yang berkomentar, "diam dan berhenti sejenak itu bagus, asalkan tidak berdiam diri, tidak melakukan apa-apa."
Bertahan ataupun memulai kembali dari awal adalah lebih baik daripada menyerah; tidak melakukan apa-apa, tidak menjadi apa-apa.

Silakan komentar dan sarannya ya ^_*

4 comments for "Bertahan atau Re-Start"

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
  2. kok refresh baa nyo pak hakim? hehhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe,, kalo refresh berarti masih tetap di jalur yang samo dak kak,, cuma si pejalan yang di suplai power nan baru dak kak... ;)

      Delete